Jumat, 27 Juli 2012

PRABU KIAN SANTANG ( SYAIKH SUNAN ROHMAT SUCI )

Kian santang adalah Tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melogenda khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf ditanah air pada umumnya.

Tokoh kian-santang ini, pertama kali berhembus di bumi pasundan dikisahkan oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan islam di tanah cirbon dan pasundan. Pangeran cakrabuana adalah anak dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang dilahirkan dari permisuri ketiga yang bernama Nyi Subang Larang; Subang-larang sendiri murid dari mubaliq kondang yaitu syeh Maulana-hasanudin atau terkenal dengan Syeh Kuro krawang.

Bermula dari, Ketika raden Walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran ,yang di sbeapkan oleh ke_berbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama “shangyang”, pada waktu itu. Diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau “sunan gunung jati“)dengan membuka perkampungan di pesisir utara dengan bantuan gendeg tapa atau kakeknya ayah dari nyi subang larang dan perkampungan inilah yang akhirnya menjadi cikal-bakal kerajaan caruban atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah “kota madya cirebon”

Logenda kian-santang sendiri diambil dari sebuah kisah nyata, dari tanah pasundan tempo dulu yang ceritanya pada waktu itu tersimpan rapi berbentuk buku di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karena pajajaran adalah hasil dari penyatuan dua kerajaan antara galuh dan kerajaan sunda pura yang dimana kerajaan galuh dan sundapura adalah dua kerajaan pecahan dari taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara, sengaja di pecah menjadi dua yaitu tarumanegara yang berganti sundapura dan ibukota lama menjadi galuh pakuan. Dan jaya dewata menyatukan kembali dua pecahan kerajaan taruma negara menjadi pajajaran, dengan mengawini dua putri dari kedua kerajaan tersebut. Sehingga secara otomatis kedua kerajaan tersebut menjadi hak waris Jaya Dewata.

Di mana di kisahkan dalam buku tersebut ; tersebutlah pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450m pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya “di tataran suda dan sekitarnya ,tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya. hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaan tarumanegara. namun berkat gagak lumayung, pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang meninggalkan taruma negara.

semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau yang artinya ”penakluk pasukan tang” Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri seperti apa. Hingga sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah Arab terdapat orang sakti mandraguna yang tak terkalahkan. Konon…. dengan ajian Napak Sancangnya raden kian santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja.

“Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang Kian Santang maksud tersebut”. Dan dengan senang hati si-kakek tersebut menyanggupi untuk menunjukkannya, namun sebelumnya dia mengajak dahulu Kian-Santang untuk mampir ke rumahnya.

Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta kian santang untuk mengambilkanya ,konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya.

Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi “yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .dan siapakah kakek tersebut? ya dia adalah taklain dan tak bukan syaidina ali r.a menantu dari baginda nabi muhamad s.a.w.

Cerita tersebut membumi sekali sampai saat sekarang. Dan yang aneh, kebanyakan orang menduga kalau kian santang itu adalah raden walang sungsang. Padahal banyak sekali cerita yang sepadan dengan kisah raden walang sungsang tersebut. Yang sesungguhnya dialah yang mengisahkan justru dialah yang di kira pelaku (raden walang sungsang atau pangeran cakrabuana) sebagai tokoh yang diceritakan itu. Tujuannya adalah hanya sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi cirbon dan sekitarnya. Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan kian santang adalah adik cakrabuana dan kakak dari rara santang. Tentu hal ini akan membuat bingung karena saydina ali hidup antara th: 500-650an sedang raden walang sungsang atau babad tanah cirbon itu sekitar tahun 1400 an.

Raden walangsungsang mengambil cerita ini dari perpustakaan kerajaan pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya, Yang di mana kian santang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman begitu pula raden walang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang yang di ambil istri oleh putra kerajaan mesir waktu itu dan pernikahan berlangsum di mesir yang dari perkawinan inilah nanti akan lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati. Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan prabu siliwangi ditolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa, konon beliau menjelma macan putih.

Pengambilan kisah penokohan dalam sebuah ceritra seperti ini sebenarnya pernah pula terjadi pada era sebelum raden walang sungsang yang tepatnya dilakukan oleh raja jaya-baya (raja islam pertama di tanah jawa) dari kerajaan panjalu atau kediri, di mana suaktu masih di pegang raja airlangga kerajaan tersebut bernama kerajaan KAHURIPAN dan karena kedua anaknya semua meminta tahta maka kahuripan di bagi dua yaitu panjalu dan jenggala. Sepanjang perkembangan dua kerajaan tersebut selalu bermusuhan dan pada masa kerajaan panjalu dirajai oleh jaya baya, panjalu mampu menaklukkan jenggala dan di satukan lagi antara jenggala dan panjalu.

Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya jaya-baya meminta empu sedha dan empu panuluh untuk mengutip naskah dari india yang judulnya maha barata. namun di ferifikasi dengan gaya jawa. Sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu atas jenggala. Yang akhirnya kitab tersebut di beri judul barata-yuda. Dan dalam kisah klasik jawa ini banyak kalangan masarakat yang mengira bahwa jaya baya adalah kelanjutan dari trah barata yaitu cicit dari parikesit putra abimanyu dan kakek dari angling darma, padahal itu hanya fiksi.

Juga kisah lainnya yang serupa pernah pula hadir kemasarakat yang tujuannya waktu itu sebagai media dakwah untuk melindungi rongrongan ajaran syariat terhadap kaum sufi.maka ketika bergerak menyebarkan islam WALI SONGO menurt banyak kalangan membuat cerita al-halaj dalam fersi indonesia yaitu; cerita syeh siti jenar. Yang menurut doktor simon dari UGM berdasarkan temuannya karya-karya besar berupa naskah suluk dari Sunan Kalijaga dan lain sebagainya. Dapat di pastikan tokoh siti jenar adalah imajener hanya untuk media dakwah dan melindungi islam agar tetap pada ajaran ahlusunah wa jamaah.

Dan sampai saat ini pendapat itu masih simpang siur dan menjadi perdebatan dan polemik panjang oleh para ahli sejarah di tanah air.

sumber : http://my.opera.com/Jiwa558/blog/show.dml/2857408
Posted in Sejarah | Tagged ajian Napak Sancang, cakrabuana, gagak lumayung, galuh pakuan, kiansantang, macan putih, rara santang, tarumanegara, walang sungsang | Leave a reply
Prabu Kiansantang Dan Aji Suket Kalanjana
Posted on April 21, 2011


“Niat ingsun amatek ajiku si suket kalanjana, aji pengawasan soko sang hyang pramana, byar padhang jumengglang paningalingsun, sakabehing sipat podho katon saking kersaning Allah”

Aji suket kalanjana adalah ilmu yang tercipta dari pengaruh islam dan aliran kepercayaan masyarakat jawa-sunda. Ajian ini pernah dikuasi oleh Prabu Kian Santang (putra Prabu Siliwangi) dan Syeh Siti Jenar. Ajian ini merupakan ilmu yang sangat tinggi dan untuk mendapatkannya pun tidak mudah karena harus punya niat yang baik dan tekad yang membaja. Konon ajian ini merupakan ajian yang langka dikuasai orang. Ia termasuk tingkatan paling tinggi diantara ilmu kejawen lainnya. Namun begitu, mereka yang menginginkan ajian ini bisa saja mendapatkannya tentu dengan laku tirakat dan tahu kunci amalan rahasianya.

Ajian ini awalnya merupakan ilmu terawangan alam gaib, dan kemudian berkembang sebagai ilmu yang dapat digunakan untuk meraga sukma dan menggerakan benda tanpa menyentuh (telekinetik). Intinya berfungsi mengaktifkan seluruh panca indera. Bereaksi terhadap gejala alam, baik alam sadar maupun alam mimpi. Versi para guru spiritual yang menguasainya menyebut ajian ini merupakan ilmu yang didasarkan pada gerakan rumput tertiup angin. Ia bisa bergerak kemana saja, tapi tetap pada tempatnya semula. Artinya, orang yang menguasai ilmu ini bisa memasuki dimensi gaib atau berada di alam lain tapi jasadnya tetap pada tempatnya.

Adapun legenda ajian suket kalanjana ini terdapat berbagai versi. Diyakini ajian ini sudah adal sebelum islam masuk ke tanah jawa. Sumber kontroversinya mengatakan ajian ini ada ketika islam masuk ke tanah pasundan. Tepatnya pada pemerintahan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Dan konon, dari sinilah ajian ini bermula.

Pada masa itu memang pengaruh islam di kerajaan pajajaran belum meluas, sehingga ilmu-ilmu kesaktian para pendekan jaman pajajaran merupakan ilmu yang tiada banding dan banyak jenisnya. Ada yang mampu terbang, menghilang dan lain lain.

Mitos yang berkaitan dengan kegaiban pun terbukti. Misal, sampai kini makam prabu siliwangi tidak pernah ditemukan. Itu sebabnya masyarakat pasundan mempercayai bahwa prabu siliwangi moksa (menghilang) dari bumi dan berubah wujud menjadi harimau. Hal ini bisa dilacak dari cerita rakyat garut. Konon prabu siliwangi tidak mau masuk islam. Ia lebih baik keluar dari keraton daripada mengikuti ajakan prabu kean santang, anaknya untuk masuk agama islam.

Prabu siliwangi akhirnya lari menuju hutan sancang. Maka untuk menjaga hal-hal yang akan terjadi prabu kean santang membendung larinya prabu siliwangi beserta pengikutnya yang telah menjadi harimau. Dan harimau jejadian itu kemudian digiring menuju sebuah gua di pantai selatan kawasan hutan sancang, garut selatan. Ketika itulah prabu kean santang mengerahkan aji suket kalanjana dan berhasil mengalahkan ayahnya yang juga terkenal sakti itu. Kemudian prabu siliwangi akhirnya mendapat hidayah dari Allah dan masuk islam.

Namun sampai sekarang ilmu sakti ini mengalami perkembangan seiring banyaknya minat kalangan keraton pajajaran menuntut ilmu. Dan prabu kean santang adalah orang yang paling suka mempelajari segala macam ilmu agama, kesatriaan maupun ilmu gaib.

Menurut versi lain, aji suket kalanjana juga dimiliki oleh syeh dari tanah jawa. Dari syeh inilah ajian diturunkan kepada murid-muridnya. Syeh ini dikenal dengan sebuatn syeh lemah abang alias syeh siti jenar. Pada masa mudanya, siti jenar juga mendalami ilmu kebatinan. Setelah mendalami bidang agama melalui Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati, semakin bertambah tinggilah ilmu kesaktiannya. Tidak heran jiak banyak pemuda berguru kepada syeh siti jenar.

Ajian suket kalanjana dapat dikuasai siapa saja sepanjang orang tersebut mampu mensucikan dirinya dan mampu melakoni apa yang dipersyaratkan, antara lain harus mampu menjalani puasa 40 hari dan makan hanya boleh dilakukan jam 12 malam. Selain itu juga harus ngrowot (hanya makan umbi-umbian) dan tidak boleh makan jenis lainnya selama 40 hari. Hal lain yang harus dilakukan adalah menjalankan tapa kungkum (berendam) di dalam suangi selama 7 malam berturu-turut, dan yang paling berat harus pati geni yaitu tidak makan,minum,tidur dan bersemedi di ruang gelap selama 7 hari 7 malam. Selama ritual itu pula harus membaca mantra khusus yang harus dihapalnya. Bila ingin melihat alam gaib, mantra ini dibaca tiga kali sambil membuka telapak tangan lalu diusap ke mata.

Untuk memiliki ajian ini maka harus menjalani laku yang berat yaitu puasa 40 hari, patigeni sehari semalam mulai hari Kamis Kliwon. Mantra dibaca setiap jam 12 malam selama menjalani puasa dan patigeni.

sumber : Mengenal Aji Suket Kalanjana
Posted in Kesaktian | Tagged alam gaib, Kalanjana, meraga sukma, Prabu, Prabu Kian Santang, prabu siliwangi, syeh siti jenar | Leave a reply
Kerajaan Pajajaran
Posted on April 20, 2011


Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat. Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak.
Sejarah
Daftar raja Pajajaran
Keruntuhan
Sumber
Lihat pula

Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
Prasasti Batu Tulis, Bogor
Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
Prasasti Kawali, Ciamis
Tugu Perjanjian Portugis (padraƵ), Kampung Tugu, Jakarta
Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Daftar Raja Pajajaran
Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang.

Keruntuhan Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
Posted in Sejarah | Tagged Banten, kebun raya bogor, kerajaan pajajaran, keraton surosowan, kesultanan banten, raja raja, Sunda | Leave a reply
Pakuan Bogor Adalah Ibukota Kerajaan Sunda
Posted on April 20, 2011


Tarusbawa naik tahta kerajaan dalam tahun 669 M sebagai penguasa Tarumanagara. Setahun kemudian ia mengganti nama negaranya menjadi SUNDA, lalu ia harus berbagi kekuasaan dengan Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh. Walau pun demikian, dalam tahun 669 M dia masih sempat berkirim surat kepada raja-raja tetangga sahabat yang memberikan penobatan dirinya sebagai penguasa Tarumanagara yang baru, menggantikan mertuanya, Maharaja Linggawarman. Itulah sebabnya dalam sumber-sumber berita Cina tercatat bahwa kedatangan duta Tarumanagara yang terakhir ke negeri tersebut terjadi tahun 669 M. Mudah dipahami karena sejak tahun 670 M Tarumanagara sudah dipecah menjadi dua kerajaan yaitu : SUNDA dan GALUH dengan Sungai Citarum sebagai batas kekuasaan masing-masing.

Tindakan lain yang dilakukan Tarusbawa ialah pemindahan ibukota kerajaannya dari daerah Bekasi ke daerah pedalaman. Hal ini dapat kita ketahui dari berita Kropak 406 yang kadang-kadang disebut Carita Parahiyangan bagian II atau fragmen Carita Parahiyangan. Naskah tersebut memberitakan pembangunan istana baru.

Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah.

Disiar ka hulu Cipakancilan, katimu Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah.

Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemuilah di sana Bagawati Sunda Mayajati oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa.)

Dari Carita Parahiyangan kita mengetahui bahwa istana yang eranama demikian (kelak) ditempati oleh Sri Baduga Maharaja yang terkenal dengan julukan Ratu Sunda atau Ratu Pakuan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Lokasinya pun tidak akan jauh dari hulu Cipakancilan. Nama keraton dan lokasinya menunjukkan bahwa keraton yang didirikan oleh Maharaja Tarusbawa ini terletak di kawasan Kelurahan Batutulis di sudut bagian tenggara kota Bogor sekarang.

Berita serupa kita temukan dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205. Di sana diberitakan, “Hana Pwanung mangadekna Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabhu Tarusbawa” (Ada pun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa).

Kedua sumber itu menunjukan bahwa Tarusbawa telah memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman atau lebih tepatnya lagi ke lokasi kampung Batutulis yang sekarang termasuk Wilayah Kotamadya Bogor. Kata Pakuan dalam bahasa Sunda kuno berarti Istana. Ada bermacam-macam tafsiran dari para ahli tentang arti Pakuan Pajajran. Ini (uraian lengkap tentang hal ini terdapat dalam buku “Sejarah Bogor”, 1983).

Pakuan Pajajaran menurut Poerbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar (“aanrijen staande hoven”). Bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri itu dapat diambil kesimpulan bahwa istana tersebut rupa-rupanya terdiri atas lima buah bangunan yang masing-masing bernama Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Itulah yang biasa disebut panca persada (5 bangunan keraton) dalam satra klasik. Dalam naskah-naskah Wangsakerta nama yang panjang itu sering disingkatkan menjadi Sang Bima atau Sri Bima saja.

Nama Keraton sering meluas menjadi nama ibukota bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah; Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton sekarang meluas menjadi nama ibukota dan juga nama wilayah. Pakuan Pajajaran pun demikian halnya. Nama itu selain nama rangkuman untuk keraton juga menjadi nama dayeuh dan negara (kerajaan).

Dalam prasasti-prasasti tembaga peninggalan Sri Baduga yang ditemukan di daerah Bekasi, ada tiga versi nama yang digunakan, yaitu Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Orang Sunda yang kemudian cenderung menggunakan kata Pakuan untuk nama ibukota dan Pajajaran untuk nama negara (Kerajaan). Dalam tulisan ini pun akan ditempuh penggunaan seperti itu sedangkan untuk menyingkatkan nama keraton akan digunakan nama “Sri Bima”.

Pakuan didirikan oleh Maharaja Tarusbawa (669 –723 M). Hal ini dapat kita artikan bahwa Pakuan adalah ibukota Kerajaan Sunda, dan didirikan dalam kwartal pertama abad ke-8 Masehi. Bangunan keraton tentu akan diperbaharui beberapa kali oleh beberapa orang penguasa sekali pun namanya tidak berubah. Kropak 406 menunjukkan bahwa keraton itu pernah dipunar (diperbaharui) oleh Prabuguru Darmasiksa dan Prabu Susuktunggal.

Lokasi Keraton ini terletak pada lahan lemah-duwur (lahan datar di atas bukit) yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam yaitu; Cisadane, Ciliwung dan Cipaku (anak Cisadane). Sebagai berkah di tengah-tengah mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi). Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ke tiga sisinya. Hanyalah pada sisi tenggara kota itu berbatas dengan lahan yang datar. Karena itu pada bagian inilah terdapat benteng atau kuta yang paling besar dengan lebar dasar 7 meter dan tingginya 4 meter serta pada bagian atasnya diperkuat dengan batu. Seperti di Karang Kamulyan (bekas Ibukota Galuh), pada tepi bagian luar benteng tersebut terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng itu. Tanah galian parit inilah yang dijadikan bagan pembangunan benteng.

Pakuan sebagai ibukota Sunda tercatat pula dalam “The Suma Oriantal” yang berisi catatan perjalanan Tome Pires (1513). Ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda yang disebut Dayo (Dayeuh) itu terletah sejauh dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa. Menurut laporan-laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng mereka memakan waktu dua hari. Jadi, sejak Maharaja Tarusbawa sampai abad ke-16 ibukota sunda tetap berada di kawasan kota Bogor yang sekarang. Di badingkan dengan usia keraton Galuh, pakuan lebih muda kira-kira satu abad. Yang jelas ialah : pendapat yang mengemukakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Baduga Maharaja tidak cocok bahkan bertentangan dengan sumber-sumber sejarah yang ada.

Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 1 – 3
Sumber : http://citraresmi.4t.com/babad1.htm
Posted in Sejarah | Tagged Ibukota, kerajaan sunda, keraton, pakuan, raja raja, Sunda, tarumanagara | Leave a reply
Sejarah Pasundan 130 – 1579 M
Posted on April 19, 2011
1

Berikut ini adalah beberapa siklus sejarah pasundan, yang di ambil dari karangan Yoseph Iskandar.

Purwacarita
Pengertian sejarah secara tradisi adalah beberapa kisah dongeng, legenda, babad, tambo dan lain-lain. Sesungguhnya hal itu berada dibawah disiplin ilmu sastra, sedangkan sejarah, pembuktiannya harus berdasarkan disiplin ilmu : filologi (ilmu yang mempelajari naskah kuna), epigrafi (ilmu yang mempelajari aksara prasasti), arkeologi (ilmu yang mempelajari artefak-artefak peninggalan sejarah), dan geografi (ilmu yang mempelajari permukaan bumi).

Karya sastra bisa diuji dan dikaji oleh disiplin ilmu sejarah sejauh karya sastra yang bernilai sejarah itu dapat menunjang temuan sejarah itu sendiri. Sebaliknya hasil penelitian sejarah dapat disusun menjadi karya sastra yang sering kita sebut roman sejarah. Naskah Pangeran Wangsakerta, menurut Edi S. Ekadjati dan menurut Ayat Rohaedi, adalah naskah sejarah. Sistematika dan pengungkapannya sudah dalam bentuk sejarah, menggunakan referensi atau sumber-sumber tertulis lainnya.

Purwayuga
Sejarah Sunda dimulai dari masa Purwayuga (jaman purba) atau dari masa Nirleka (silam), yang terbagi atas :
Prathama Purwayuga (jaman purba pertama), dengan kehidupan manusia hewan Satwapurusa, antara 1 jt s.d. 600 rb th silam
Dwitiya Purwayuga (jaman purba kedua), dengan kehidupan manusia yaksa, antara 500 rb sampai 300 rb tahun silam
Tritiya Purwayuga (jaman purba ketiga), dengan kehidupan manusia kerdil (wamana purusa), antara 50 rb sampai 25 rb tahu silam.

Dukuh Pulasari Pandeglang
menurut naskah Pangeran Wangsakerta, kehidupan masyarakat Sunda pertama di pesisir barat ujung pulau Jawa, yaitu pesisir Pandeglang. Dipimpin oleh seorang kepala suku (panghulu) Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya. Sistem religi mereka adalah Pitarapuja, yaitu pemuja roh leluhur, dengan bukti sejumlah menhir seperti Sanghiyang Dengdek, Sanghiyang Heuleut, Batu Goong, Batu Cihanjuran, Batu Lingga Banjar, Batu Parigi, dll. Refleksi dukuh Pulasari dapat kita lihat di kehidupan masyarakat Sunda Kanekes (Baduy).

Salakanagara
Putri Aki Tirem yaitu Pohaci Larasati, menikah dengan seorang duta niaga dari Palawa (India Selatan) bernama Dewawarman. Ketika Aki Tirem wafat, Dewawarman menggantikannya sebagai penghulu dukuh Pulasari.
Dewawarman mengembangkan Dukuh Pulasari hingga menjadi kerajaan corak Hindu pertama di Nusantara, yang kemudian diberi nama Salakanagara. Salaka berarti Perak dan Nagara berarti negara atau negeri. Oleh ahli dari Yunani, Claudius Ptolomeus, Salakanagara dicatat sebagai Argyre. Dalam berita China dinasti Han, tercatat pula bahwa raja Yehtiao bernama Tiao-Pien mengirimkan duta keChina tahun 132 M. menurut Ayat Rohaedi, Tiao berarti Dewa, dan Pien berarti Warman.

Salakanagara didirikan tahun 130 M, dengan raja pertamanya Dewawarman I dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gpura Sagara. memerintah hingga tahun 168 M. Wilayahnya meliputi propinsi banten sekarang ditambah Agrabintapura (Gunung Padang Cianjur) dan Apuynusa (Krakatau).
Raja Terakhir (ke-8) Dewawarman VIII bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman (348-363 M).

Tarumanagara
Didirikan oleh Jayasingawarman pada 358 M dengan nobat Jayasingawarman Gurudarmapurusa.
Penerusnya adalah Purnawarman yang memindahkan pusat pemerintahan dari Jayasingapura (mungkin Jasinga) ke tepi kali Gomati (bekasi) yang diberi nama Sundapura (kota Sunda), bergelar Harimau Tarumanagara (Wyagraha ning tarumanagara), dan disebut pula Sang Purandara Saktipurusa (manusia sakti penghancur benteng) dan juga Panji Segala Raja. Sedangkan nama nobatnya adalah Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati.
Raja terakhir Sang Linggawarman sebagai raja ke-12

Kerajaan Sunda
Tarumanagara dirubah namanya menjadi Kerajaan Sunda oleh Tarusbawa, penerus Linggawarman. Akibatnya belahan timur Tarumanagara dengan batas sungai Citarum memerdekakan diri menjadi Kerajaan Galuh.

Kerajaan Sunda berlangsung hingga tahun 1482 M, dengan 34 raja.

Prabu Maharaja Linggabuana dinobatkan menjadi raja di kerajaan Sunda pada 22 februari 1350 M. Ia gugur bersama putrinya, Citraresmi, dalam tragedi Palagan Bubat akibat ulah Mahapatih Gajahmada. Peristiwa itu terjadi pada 4 September 1357 M.

Mahaprabu Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Linggabuana pada usia 9 tahun. Dia membuat Prasasti Kawali di Sanghiyang Linggahiyang atau Astana Gede Kawali. Dia juga yang membuat filsafat hidup :” Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana” (unggul dalam perang, lama hidup di dunia).
Wastukancana memerintah selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari dalam keadaan damai.

Sri Baduga Maharaja adalah putra Prabu Dewa Niskala, cucu dari Prabu Wastukancana. Ia adalah pemersatu kerajaan Sunda, ketika Galuh kembali terpisah. Kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Dialah raja pertama yang mengadakan perjanjian dengan bangsa Eropa, yaitu Portugis. Ia berkuasa dari tahun 1482 s.d. 1521M.

Kerajaan Galuh
Pendirinya adalah Prabu Wretikandayun pada 612 M.
Prabu Sanjaya Harisdarma. Ia disebut Taraju Jawadwipa, dan sempat menjadi Maharaja di tiga kerajaan :
Kalingga
Galuh
Sunda.

Sang Manarah yang dalam dongeng disebut Ciung Wanara. Ia putera Prabu Premana Dikusumah dari Naganingrum.

Kerajaan Pajajaran
Pajajaran adalah sebutan pengganti atas bersatunya kerajaan Galuh dengan kerajaan Sunda, yang dipegang oleh satu penguasa : Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran atau Sri Sang Ratu Dewata.

Penggantinya adalah Prabu Sanghyang Surawisesa, yang berkuasa di belahan barat Jawa barat, karena di sebelah timur sudah berdiri kerajaan Islam Pakungwati Cirebon, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman. Dia adalah putra sulung Sri Baduga Maharaja dari Subanglarang yang beragama Islam. Subanglarang adalah murid Syekh Quro Hasanudin Pura Dalem Karawang.

Tahta kerajaan Pajajaran berlangsung turun-temurun : Ratu Dewata; Ratu Sakti, Prabu Nilakendra dan yang terakhir Prabu Ragamulya Suryakancana.
Di pihak Cirebon sendiri, putera Susuhunan Jati Cirebon, yaitu Pangeran Sabakingkin, telah berhasil mendirikan kerajaan bercorak Islam Surasowan Wahanten (Banten) dan melakukan beberapa kali penyerbuan ke Pajajaran.

Pakuan Pajajaran direbut dan dimusnahkan oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanudin.
Pajajaran sirna ing bhumi, atau Pajajaran lenyap dari muka bumi pada tanggal 11 bagian terang bulan wasaka tahun 1511 Saka atau 11 Rabi’ul Awal 978 hijriah atau tanggal 8 mei 1579 M.
Sebagai tunas-tunas Pajajaran, muncullah 3 kerajaan Islam di tatar Sunda :
Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon;
Kerajaan Islam Surasowan Banten; dan
Kerajaan Islam Sumedanglarang.

6 komentar:

  1. sampurasun ... bade nyuhunkeun widi copas

    BalasHapus
  2. makasih utk info nya yg bermanfaat...agar supaya kita generasi muda bisa melihat sejarah perkembangan islam di tanah jawa...

    BalasHapus
  3. ceritanya membingungkan dan penuh kontradiksi antara paragraf satu dengan yang lain, contoh di satu paragraf disebutkan kiansantang dan syeh siti jenar itu tokoh imajiner alias fiksi, tetapi di paragraf lain disebutkan kalo kiansantang itu putra prabu siliwangi dan siti jenar itu muri sunan gunung jati.

    bingung...

    BalasHapus
  4. disinilah banyaknya yang memperkeruh babad padjadjaran Apa maksudnya ?
    padjadjaran dihancurkan bukan oleh kerajaan banten tapi dikeroyok oleh kesultanan anak dan cucunya serta kerajaan demak dan belanda, sungguh miris kenapa kerajaan berbasis islam begitu ???????

    BalasHapus
  5. sejarahnya memang rumit dan terus berkembang.

    BalasHapus
  6. banyak kutipan-kutipan dari refrensi yg tdk jelas. jadi setiap alinea kadang tdk nyambung. coba anda kunjungi Situs batu tulis, Kebon Raya Bogor dan Makam Kian santang (syehk Sunan Rohmat di Gn Godog Garut.mudah-mudah dpt safaat disana

    BalasHapus